Minggu, 05 Agustus 2012
Taupik Zaen Al-Afif
1 comment
Jadi Mahasiswa Jangan Cengeng
JIKA kebanyakan mahasiswa menghabiskan Minggu pagi
dengan tidur pulas akibat berpesta semalaman, Jauhari Zaini justru harus
bersiap-siap untuk berangkat kerja. Pekerjaannya sebagai petugas keamanan
(satpam) akan dimulai pada pukul 07.00.
Selama empat tahun (2008-2011), Jauhari selalu
menghabiskan Minggu dengan bekerja sebagai satpam di lokasi konstruksi di
daerah Marina, Singapura. Selain bekerja sebagai satpam, Jauhari juga
memberikan pelajaran bahasa Inggris kepada kelompok swadaya Mendaki. Kedua
pekerjaan ini dilakoninya untuk membayar biaya kuliah di Nanyang Technological
University (NTU).
Sabtu, 4 Agustus 2012 waktu setempat, mahasiswa
berumur 26 tahun ini akan menyandang gelar sarjana sosiologi dari NTU. Bahkan,
pada Rabu, 1 Agustus lalu, dia bersama 30 mahasiswa lainnya menerima Medali
Emas Lee Kuan Yew. Penghargaan ini diberikan kepada siswa atas performa
akademis mereka.
Alumni Sekolah Menengah Bartley ini ternyata
merupakan sosok pemuda yang sering melakukan pelanggaran. Dia pernah dicambuk
di panggung untuk pelanggaran mulai dari pembolosan, melakukan kekerasan kepada
teman-teman sekelasnya untuk membangkang terhadap guru.
Bahkan, Jauhari juga kerap merokok di sekolah,
namun akhirnya berhenti setelah tertangkap ketika kelas XII. "Itu adalah
perbuatan tidak bijaksana saya ketika muda," kata Jauhari, seperti dikutip
dariThe
New Paper, Minggu (5/82012).
Ibu Jauhari, Radiah Said Shukor yang merupakan
orangtua tunggal serta kakak perempuannya merupakan panutan Jauhari. Kesejangan
sosial yang dialami sang ibu ketika bekerja selama 10 tahun sebagai pembersih,
membuat Jauhari memiliki minat yang besar terhadap feminisme sehingga dia pun
mengambil spesifikasi gender pada studinya.
"Baik pria maupun wanita dapat menjadi
feminis. Saya tidak tahu mengapa orang melihat feminisme sebagai sesuatu yang
berbahaya seperti Marxisme ketika tujuan feminisme adalah benar-benar untuk
mencapai kesetaraan gender," ujarnya menambahkan.
Belajar dari sang ibu, Jauhari belajar hemat dan
produktif dengan waktunya. Maka, saat bekerja, dia akan menghabiskan 12 jam
kerjanya dengan membaca.
Menurut Jauhari, bekerja sebagai satpam
memungkinkannya untuk mengalami secara langsung sikap masyarakat terhadap
"anak tangga lebih rendah". "Ini bukan posisi pekerjaan yang
baik. Orang akan merendahkanmu. Tapi menjadi seorang mahasiswa sosiologi, saya
merasa harus mengambil pekerjaan itu untuk mengetahui bagaimana perasaan orang
di posisi ini," tutur pemuda yang aktif dalam sebuah organisasi perempuan
Association of Women for Action and Research (Aware) itu.
Salah satu dosennya, Associate Profesor Teo You
Yenn, Jauhari sangat dihormati oleh para staf fakultas dan teman-teman
sekelasnya di Departemen Sosiologi. "Dia jelas sangat pintar, tapi yang
lebih mengesankan, dia juga rendah hati dan murah hati, ingin tahu tentang
dunia, tidak takut kemunduran, dan tertarik akan masalah keadilan sosial,"
kata Yenn.
Tidak hanya dosen, keluarga Jauhari, terutama sang
ibu merasa sangat bangga atas prestasi yang diraihnya. "Saya sangat terkejut.
Saya tidak berharap hasil yang baik. Tapi saya senang dan bersyukur menerima
berkat ini selama bulan puasa dan dengan Hari Raya datang sebentar lagi, ini
merupakan bonus tambahan," ujar Radiah.
Ke depan, Jauhari berencana untuk belajar untuk
gelar master sosiologi. Sementara belum memutuskan di mana ingin melanjutkan
S-2, dia ingin memfokuskan penelitiannya pada ibu tunggal dan anak-anak mereka
atau anak dari keluarga kurang mampu.(mrg)










