SMS Gratis

buku tamu melayang

buku tamu

Time and Date

Senin, 11 November 2013

Surat untuk negeriku kalimantan


Banjarmasinpost.co.id - Sabtu, 13 Agustus 2011 | 01:10 Wita | Dibaca 90 kali | Komentar (0)
Oleh : HM Said

Pada saat saya menulis angan-angan ini, berarti sudah kurang lebih 16 tahun tidak lagi jadi gubernur Kalimantan Selatan.

Saya menulis ini, setelah bertualang melihat negeri orang yang jauh lebih maju dari Indonesia tercinta ini. Saya mengunjungi beberapa negara di Asia, Afrika, Eropa, Australia, Zelandia Baru dan Amerika Serikat. Malah yang lebih dekat lagi yaitu negara bagian dari Malaysia yaitu Serawak dan Sabah yang satu pulau dengan kita, juga ternyata mereka lebih maju.

Mengapa mereka lebih maju?

Padahal sebagian besar tidak sekaya negara kita. Apakah karena manusianya lebih maju? atau imannya lebih kuat dari kita? Ternyata juga tidak.

Kita jauh lebih hebat dari mereka. Bukankah kita punya kekayaan alam melimpah, rakyat lebih dari 200 juta, banyak yang pintar-pintar, penduduknya taat menjalankan syariat agamanya. Ternyata kesalahan kita dalam membangun negeri ini, ialah kita tidak memprioritaskan pembangunan prasarana dan infra struktur.

Apa itu prasarana?

Itu adalah sarana utama, atau sarana paling penting yang diperlukan negara untuk mencapai kemakmuran.

Yang pertama adalah jalan raya.

Belanda yang menajah lima abad lalu memahami pentingnya jalan raya, karena itu mereka utamakan membangun jalan raya dari Anyer (Banten) ke Panarukan (Jawa Timur) sepanjang 1.000 kilometer. Itu dijalankan setelah mereka mulai menjajah.

Di Kalimantan Selatan Let Kol Versvijck, Komandan militer Belanda tahun 1859 memerintahkan pembangunan jalan raya dari Taboneo ke Pelaihari, Martapura, Pengaron, Muning, Amawang (Kandangan) terus ke Pantai Hambawang, Barabai, Lampihong dan Amuntai sepanjang 300 kilometer, lebar tiga meter.

Tentu saja banyak korban kerja rodi yang diderita rakyat namun ternyata jalan raya itu sangat penting. Dengan adanya jalan tersebut perlawanan rakyat dapat ditindas, ekonomi penjajah meningkat guna kemakmuran negara mereka di Eropah.

Kemudian mereka membangun lagi jalan kereta api berdampingan dengan jalan raya terutama di Jawa dan Sumatera, yang lebih memudahkan lagi lalu lintas. Sayang Kalimantan belum pernah punya jalan kereta api.

Negara-negara yang saya sebutkan di awal tulisan ini, sudah lama memahami bahwa jalan sangat penting, sedangkan kita sangat terlambat dalam membangun jalan raya ini.

Berpuluh tahun bebas dari penjajah, panjang jalan dan rel kereta api kita tidak bertambah malah berkurang. Sampai saat ini jalan tol belum selesai dibangun antara Jakarta dan Surabaya, padahal kalau ini dibangun dari dulu, ekonomi lebih baik.

Malaysia dan Afike memiliki kafasitas jalan yang jauh melampaui kita. Maroko, negara di bagian paling barat Afrika punya jalan utama dari Cassablanca hingga Tangier yang jaraknya 500 kilometer.

Bagaimana Kalimantan?

Pulau yang selama ini selalu ketinggalan, juga prasarana jalannya sangat ketinggalan. Pada waktu saya menjadi gubernur Kalsel (1985-1995), bertekad memperbaiki dan meningkatkan jalan raya yang waktu itu hampir hancur total.

Targetnya ibu kota kecamatan dapat dicapai dengan kendaraan. Alhamdulillah 90 persen berhasil. Jalan utama kwalitasnya ditingkatkan dengan aspal hotmix. Kemudian empat gubernur se-Kalimantan sepakat membangun jaringan jalan seluruh Kalimantan, namun sayang sampai sekarang belum tuntas.

Kini Kalimantan Selatan, jalan rayanya masih merupakan masalah. Jalan utama saja kondisinya masih memprihatinkan, penambahan panjang jalan boleh dikatakan tidak ada. Rasa-rasanya masih seperti 10 - 15 tahun lalu.

Kapan kita punya jalan raya sekuwalitas jalan tol di Jawa?

Maka angan-anganku (semoga menjadi kenyataan dan aku sempat menyaksikan) adalah jalan utama di Kalimantan Selatan.

Pertama, Banjarmasin-Lianganggang-Martapura-Rantau-Kandangan -Pantai Hambawang-Barabai-Paringin-Tanjung-Jaro-perbatasan Kaltim.

Kedua, jalur Pantai Hambawang-Amuntai-Kelua-perbatasan Kalteng.

Ketiga, ruas jalan Lianganggang-Pelaihari-Kintab-Pagatan- Batulicin-Pamukan-perbatasan Kaltim.

Keempat, jalan Batulicin-Jembatan Selat Laut-Kotabaru-selatan Pulau Laut (calon pelabuhan Samudera).

Kelima, jalur Kandangan-Lumpangi-Loksado-Batulicin. Dan, yang keenam adalah jalan dari Banjarmasin-Marabahan-Jembatan Barito- perbatasan Kalteng.

Hendaknya minimal empat jalur dengan pembatas di tengah, berkwalitas setingkat jalan tol, dengan garis sempadan minimal 35 meter (sesuai aturan) dari as jalan ke garis depan pemukiman penduduk. Di kiri kanan jalan hendaknya penuh pohon besar.

Dari jaringan tersebut Jembatan Selat Laut penting sekali untuk dibangun, mengingat di selatan pulau ini satu-satunya laut paling dalam untuk dibangun pelabuhan samudera.

Dan rencana pelabuhan tersebut letaknya di Selat Makassar yang sangat strategis.

Harapan kita semoga pembangunan jaringan jalan yang sama diikuti oleh provinsi tetangga kita yaitu Kaltim, Kalteng dan Kalbar (atau mereka sudah mulai?), sehingga cita-cita lama merealisir jaringan jalan trans Kalimantan punya pabrik Semen.

Dananya dari mana?

Tanpa memandang apakah ini tanggung jawab pusat, hendaknya pembiayaan ditanggung bersama antara pusat, provinsi dan kabupaten/kota. Kalau perlu swasta ikut terlibat, seperti konsep jalan tol.

Tanpa jalan yang baik, mustahil ekonomi akan baik. Mustahil investor dating menanamkan modalnya. Kalau mengharapkan anggaran pusat saya kuatir sampai kiamat tidak akan tercapai. (*)

Mantan Gubernur Kalsel

0 komentar:

Posting Komentar